Home

Rabu, 21 November 2012

Labour Matter: Sedikit tentang Opini Gerakan Buruh


Saya sedang menonton berita di TV one siang ini. Pemberitaan tidak banyak berubah dalam seminggu ini. Yang paling miris memang masih masalah konflik di Jalur Gaza. Alhamdulillah, hari ini sudah disepakati genjatan senjata antara kedua belah pihak. Saya sih berharap banget genjatan senjata ini benar-benar ditaati (apalagi oleh Israel) dan semoga genjatan senjata ini bisa terus berlanjut selamanya. Amin.

Ada yang cukup menggelitik saya dari pemberitaan tersebut yaitu berita tentang demo buruh. Akhir-akhir ini demo buruh lagi cukup happening lagi ya. Kayaknya demo buruh ini gak ada habisnya kalau di Indonesia. Kita memang harus mengakui bahwa kondisi buruh dan industri di Indonesia ini masih buruk, belum sebaik di Jerman.

Dari pemberitaan buruh ini ada satu cerita yang ingin saya bagikan. Waktu kuliah dulu, sekitar tahun 2011, saya pernah ikut demo buruh dalam rangka observasi untuk tugas kuliah. Pengalaman saya mengobservasi demo buruh benar-benar menarik, deh dan saya jadi tahu kondisi buruh dan gerakan buruh itu sendiri.
Saya mulai perjalanan dengan teman-teman dan dosen. Kami mengobservasi demo buruh dari salah satu organisasi buruh yang cukup terkenal, yang pasti sering kalian lihat di berita. Bajunya merah-merah dan kita sebut saja organisasi buruh Kecapi ya. Jadi ternyata markas organisasi buruh Kecapi itu hanya sebuah rumah kontrakan yang mereka sewa. Markas ini Cuma salah satu tempat untuk persiapan demo di tanggal 1 May esoknya karena cabang organisasi mereka banyak dan tersebar di seluruh wilayah. Anggota organisasi ini cukup banyak loh, kayaknya hampir mayoritas buruh di Indonesia. Saya gabung ke cabang organisasi Kecapi wilayah Cikupa, Tangerang. Teman-teman ada yang dipisah untuk melihat persiapan organisasi buruh di wilayah lain, tapi masih di Tangerang.


Singkat cerita, dari hasil pengamatan saya, ternyata buruh-buruh Indonesia sudah cukup canggih dan sangat peka terhadap isu hak asasi. Mereka bahkan ada yang tahu sejarah, gerakan-gerakan komunisme, apa yang dimaksud paham sosialisme, liberalisme, dll. Ya ampun, pokoknya tinggal kasih UTS aja mereka pasti lulus.
Tapi, kemudian saya berpikir, benarkah setiap kepekaan mereka  berasala dari dalam diri mereka sendiri? Apakah setiap tuntunan yang mereka suarakan benar-benar berdasarkan kepentingan mereka sendiri? Apakah gerakan kaum buruh di Indonesia benar-benar murni dan bebas dari pengaruh kepentingan lain?
Tuh, kan, pasti kamu juga ada yang berpikir seperti ini juga. Kalau dilihat dari pemberitaan, ternyata gerakan kaum buruh di Indonesia tidak selalu mencerminkan aspirasi kaum buruh secara keseluruhan. Kalau kita lihat memang banyak sekali kaum buruh yang ikut dalam setiap aksi demo. Tapi ada juga buruh yang tetap ingin bekerja dan tidak ingin ikut aksi, namun banyak teman-teman mereka yang sweeping dan mengancam buruh tersebut jika tidak ikut berdemo. Kalau menurut saya, ini sudah pemaksaan banget. Kenapa harus memaksa seseorang untuk kompak. Toh, buruh yang tetap ingin kerja saat aksi tersebut mungkin butuh uang dan ia takut jika dikeluarkan.

Kita juga tidak boleh menyangkal pengaruh LSM asing dalam gerakan buruh di Indonesia. Kalau kamu tidak ingin berpura-pura naif coba deh baca artikel atau opini mengenai gerakan buruh. Banyak pakar dan pengamat yang membenarkan bahwa gerakan buruh tersebut tidak terlepas dari strategi campur tangan asing. Bahkan dalam mata kuliah politik perburuhan pun, dosen saya juga mengatakan bahwa gerakan kaum buruh bisa menjadi alat dari suatu negara untuk menurunkan daya saing investasi negara lain sehingga para investor beralih ke negaranya. Ini benar-benar strategi yang logis dan politis. Dan memang benar saja, dari observasi saya kepada gerakan buruh Kecapi memang ada sentuhan-sentuhan isu-isu asing yang ditanamkan kepada para buruh tersebut. Mereka bisa memahami konsep-konsep tersebut karena pengaruh asing tersebut. Tapi mereka pasti gak banyak yang tahu bahwa bisa saja gerakan buruh yang mereka perjuangkan adalah alat untuk memperburuk keadaan ekonomi di Indonesia.

Mungkin dari yang teman-teman baca, opini saya ini cenderung tidak peduli terhadap kondisi buruh saat ini. Jangan salah sangka, saya benar-benar tahu dan bahkan melihat sendiri kondisi buruh di Indonesia. Memang dari segi pendapatan yang mereka dapat belum cukup apalagi dengan adanya sistem outsourcing saat ini membuat buruh menjadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan jaminan sosial dan kepastian kerja.
Nah, kalau menurut saya, hal yang harus dibenarkan adalah dari sistem pengawasan pemerintah di Depnaker sendiri. Pemerintah harus aware akan setiap aksi buruh karena perekonomian Indonesia ditunjang investasi dan investas ditunjang dari stabilitas politik suatu negara.

Yang terjadi saat ini, pemerintah terus menggenjot investasi tapi gak mau kasih perhatian lebih ke perbaikan kehidupan kaum buruh. Pemerintah membangun jalan, kawasan pabrik, dan sarana infrastruktur penunjang investasi di Indonesia tapi sangat jarang membangun kesejahteraann kaum buruh sendiri.  Ini kan bener-bener gak sinkron.

Mungkin momentum demo buruh di bunderan HI pagi ini bisa membuat pemerintah sadar untuk membangun prasarana penunjang investasi dari segi buruh nya. Selain membangun infrastruktur pemerintah juga harus menyediakan sistem jaminan sosial yang menyeluruh bagi seluruh warga Indonesia, gak Cuma yang kerja formal, tapi yang informal juga bisa di cover, seperti yang sudah dilakukan di banyak negara di Eropa. Ada  bagusnya juga disamping bangun pabrik pemerintah juga membangun rumah susun untuk buruh.
Kalau menurut saya investasi pemerintah di perbaikan kaum buruh pasti bisa lebih menggenjot investasi ketimbang datang ke luar negeri langsung untuk mengundang investor. Kalau kondisi nya udah baik, investor juga akan tertarik untuk datang sendiri kan.

Yang gak kalah penting juga pengawasan biro-biro outsourcing tuh. Beeuh... bener-bener ya yang namanya biru outsourcing jujur jaman sekarang jarang banget. Saya dan teman-teman yang sedang cari kerja aja sering kecele sama perusahaan yang nawarin kerja gak taunya dia perusahaan outsourcing. Dan gara-gara ada outsourcing gini jadi bikin peluang kerja semakin sedikit. Otomatis perusahaan gak jadi harus pasang lowongan kerja, karena biro outsource sendiri yang akan urus.

Pemerintah harus mengawasi lagi perusahaan outsourcing di Indonesia karena banyak yang gak sesuai peraturan. Kalau perlu buat hotline pengaduan seputar outsourcing. Memang yang namanya outsourcing ini bikin tenaga kerja, terutama buruh, jadi berkurang pendapatan dan hak-hak fasilitasnya. Memang sulit untuk menghapuskan sistem outsourcing karena sudah jadi tren di dunia. Yang sebaiknya dilakukan adalah pentertiban perusahaan outsourcing tersebut.

Saya sebagai mahasiswa juga termasuk buruh juga nantinya. Semua orang baik yang kerja di sektor formal, pabrik, atau pemerintah juga termasuk buruh. Kita semua sama dan ingin satu hal yang juga sama, yaitu keadilan. Demo buruh bukan hal yang salah dan sah-sah saja dilakukan hanya saja kita juga tidak boleh naif terhadap isu-isu dan jangan lupa memperhatikan kondisi ekonomi untuk jangka ke depannya.

photo credit:
merdeka.com
beritadaerah.com
indianmarket.com
arthreat.net

Selasa, 30 Oktober 2012

The Way So Far...





Hi blogger, akhirnya bisa bersua lagi dengan blog kesayangan dan sahabatku ini. Setelah sekian lama gak update-update blog. Alhamdulillah hari ini masih bisa ketemu waktu luang. Aku punya banyak cerita dari hari-hari yang telah kujalani sebelumnya.
This way so far.., dari usaha perjalanan seorang jobseeker, hari-hari yang saya lalui cukup sibuk dan rumit. Kadang-kadang ada satu minggu yang agak lowong, namu minggu lainnya penuh jadwal interview, psikotes, dan lain sebagainya.

Di ODP bank Mandiri, saya sendiri gagal di  Di Metro TV, lebih ngenes lagi, pas psikotes gak lolos. Di tempat lain, saya udah sering diinterview tapi mungkin belum rejeki kali ya. Ada juga beberapa yang saya gak ambil karena kurang sreg sama lokasi kerja dan pekerjannya sendiri. (Loh, kalo dipikir-pikir dalam 3 bulan terakhir ini udah banyak juga ya, perusahaan yang aku datengi, kalo diitung-itung ada tuh puluhan).

Namun, pada bulan September lalu agenda saya dipenuhi oleh jadwal tes seleksi ODP sebuah bank umum daerah. I won’t tell you the name regarding the risk okay. Pada awalnya, saya cukup senang karena di seleksi ODP bank ini saya bisa sampai tahap terakhir yang artinya saya bisa menyisihkan sekitar dua ribu an orang.

Seleksi ODP di Bank milik pemprov suatu daerah ini tahapannya hampir sama dengan ODP di tempat lain. Pada awalnya, saya Cuma iseng-iseng aja kirim lamaran karena waktu itu saya terlalu nafsu sampe kirim lamaran di semua tempat.
Proses pertama yang saya ikuti adalah interview. Interview awal sendiri singkat dan saya diminta untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Saya langsung saja minta dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah, lancar. Soalnya udah pernah juga diinterview pake bahasa Inggris di tempat lain kan. Yang pertama di UNGC (hikss...sedih banget deh yang ini) sama di Yayasan AFS itu. Bapaknya cukup seneng dan menurut saya diapun orang yang ramah. Dia juga ternyata alumni SMP 87 juga.
Then, saya lolos ke tahap TPA dan TPB. Tes ini sendiri sebenarnya adalah tes untuk masuk program S2. Kalo mau belajar dari buku-buku psikotes atau TPA sebenarnya soalnya sama. Tapi memang waktunya sebentar. Jadi saya gak tau apa yang bikin saya lulus. Padahal saya jawabnya gak yakin. Terus langsung lanjut TPB atau  tes bahasa Inggris. Tes ini TOEFL banget. Saya yakin soalnya dirancang mengikuti soal TOEFL. Tapi emang lebih susah dari tes TOEFL ITP yang saya ikuti di LBI FIB UI. Untuk kedua tes ini alhamdulillah saya lolos juga.


Lanjut, ke psikotes. Pertama kali mulai tes udah di kasih soal Kraepelin. Hmm...lumayan deh pagi-pagi. Menurut saya sendiri saya payah banget pas ngerjainnya karena jumlah penambahan angkanya rendah. Gak sampe 14 baris deh, sementara di samping saya orang-orang bisa sampe baris 20 ke atas. Tes psikotes berikutnya gambar pohon, orang, rumah, dan tes wartegg. Yah ini standar lah. Cuma waktunya itu sebentar banget. Jadi gambar yang saya buat abstrak semua. Apalagi pohonnya itu gak keliatan seperti pohon deh pokoknya.
Anehnya saya lolos juga psikotes. Apa mungkin pas FGD saya agak aktif atau karena ada tes lain yang membuat saya bagus. Pokoknya saya yakin aja lah ini udah takdir Allah swt. Tes berikutnya adalah wawancara dengan Direksi. Saya sendiri kebagian dapet pak Dirut nya. Di wawancara langsung di kantor nya beliau yang ada di kantor pusat bank tersebut. Yah, grogi-grogi deh apalagi pake bahasa Inggris. Beliau lebih nanya latar belakang ku dan keluarga ku. Terus hubungan backgroun studi ku dengan industri perbankan dan bagaiman komitmen yang akan aku beri kalo aku udah bergabung. Aku jawab sebisanya aja. Duh, aku gak pedenya begini ini, kalo ada yang nanya jurusan dan pelajaran yang aku pelajarin. Apalagi kalo dari perusahaan bank. Soalnya saya sama sekali gak dapat materi mengenai perbankan. Selama ini saya Cuma baca dari buku-buku aja mengenai istilah perbankan. Aku Cuma jawab kalo di jurusan itu kita banyak belajar teknik konsultasi dan psikologi, meski bukan dari jurusan psikoklogi, jadi akan cocok di tempatin di bagian SDM.
Dan keanehan kedua saya juga lolos. Dari awal saya mengira mungkin ini akibat doa ibu saya. Orangtua terutama ibu memang sangat senang dan mendukung saya supaya bisa lolos di bank ini karena menurutnya nanti saya bisa di tempatkan di Jakarta secara domisili dan kepemilikan bank ini juga dari pemda. Selama saya tes bapak selalu mengantarkan. Karena tesnya pagi terus dan tempatnya juga gak deket. Kalo bapak gak bisa jemput pasti numpang tukang ojek, bayar 60rb dari ciputat-manggarai. (Lumayan kan). Sumpah, ini yang bikin saya gak enak sama orangtua. Pengorbanan mereka udah besar banget. Makanya saya juga berusaha di tes ini.
Namun, ini antiklimaks dari perjalanan saya mengikuti tes odp bank ini. Dua hari sebelum mulai pelatihan ODP saya dan 24 teman baru dikasih tahu detail kontrak kerjanya. Dan, ini antiklimaks banget deh. Kita yang dari awal udah seneng ternyata terpaksa harus di kecewakan dengan kontrak kerja yang jauh dari harapan. Teman-teman berharap bisa dapat gaji/uang saku 2,7jt kayak peserta ODP tahun lalu. Nyatanya uang kita itu harus dipotong 1,3jt untuk penginapan dan sisanya 1,7jt. Makan pagi dan malam gak ditanggung. Gak ada asuransi kesehatan, kecuali sakit yang berat banget ya. Dan saya juga baru tahu pelatihannya itu di Jogja pada hari Senin saat medical check up. Yah, sebenarnya saya gak keberatan dengan uang saku dan lokasi pelatihannya Cuma saya gak sreg dengan kontrak yang baru di kasih tau “ in the last minute”. Saya kan sudah meng-cancel panggilan interview dari perusahaan lain. Selain itu kita temen-temen juga belum ada yang melengkai dokumen SKCK, surat keterangan domisili, NPWP. Kalo menurut saya dokumen-dokumen itu gak bisa disiapkan sehari aja. Aneh juga untuk ukurang bank daerah yang sudah cukup terkenal. Kok, jadi gak perusahana yang future-future gini sih.

Illustration depicting a directional roadsign with a choices concept. Dramatic sky background. Stock Photo - 14731328
Akhirnya kita ber 24 langsung ngumpul pada malem itu di kantor pusat bank nya. Kita bahas kekecewaan kita. Beberapa teman bahkan udah ada yang bertekad gak mau ambil. Tapi kebanyakan tetep ambil aja karena udah capek juga ikut rangkaina tesnya sebulan penuh. Saya sendiri sebenarnya punya banyak pertimbangan untuk lan jut atau gak lanjut. Kalo lanjut saya harus mau untuk bisa cocok dengan 3 bidang dimana saya akan ditempatkan nanti, yaitu Treasury, Wealth Management, sama Credit. Kata kakak saya ketiga-tiganya itu pelajaran Finance semua yang susah dipelajari dalam waktu singkat kecuali aku punya basicnya. Jujur kalo ada international banking atau sales and marketing mungkin saya masih bisa ngikutin. Saya emang belum paham banget ketiga benda itu (Treasury, Wealth Management, Credit) tapi saya yakin ini emang bidangnya manajer keuangan.  Bagaimana kita ngelola uang perusahaan dan kekayaan bank sama analisa kredit. Saya takut gak bisa kompeten di bidangnya. Seandainya saya tahu ini dari awal mungkin saya udah gak lanjut ikut tesnya. Pertimbangan lain yang membuat saya ingin ambil adalah karena saya bener-bener gak enak sama orang tua saya. Bapak selalu membolehkan saya nebeng mobilnya setiap kali akan berangkat tes. Ibu sampe nazar 7 hari puasa berturut-turut. Ya Allah....kalau pun saya harus terpaksa ambil karena orang tua mengharuskan saya akan tetap berangkat. Apapun yang penting buat bapak ibu bahagia.
The word Careers surrounded by doors in many colors Stock Photo - 6756516
Tapi setelah saya jelaskan kontrak ini ke mereka pada saat saya pulang ke rumah, mereka gak kalah jeding sama temen-temen saya tadi. Mereka tadinya mendukung, tiba-tiba bilang “Yaah...tau gitu gak usah diambil aja deh de”. Orang tua saya keberatan dengan kontraknya yang tiga tahun serta penalty nya yang ratusan juta itu. Apalagi kalo kita gak lulus nanti akan dijadikan karyawan kontrak selama 3 tahun dengan gaji 1,9 jt di bagian frontlier (teller atau costumer service). Mereka bener-bener gak mau kejadian kayak gini. Mereka cukup kecewa dan kesal dengan penyelenggara tes dan bank sendiri. Kenapa gak dijelaskan dari awal. Karena kurang informatif saja semua hal jadi berantakan. Makan hati rasanya..

Bapak sudah yakin melarang saya untuk tidak ambil dan fokus ke yang lain saja. Ibu sendiri masih ragu dan kalo didengar dari kata-katanya sepertinya ingin saya cepet kerja, apalagi gaji dari bank ini lumayan besar untuk ukuran sebuah bank. Tapi beliau juga gak mau bayar penalty atau menerima kenyataan tiba-tiba saya nanti gagal ODP. Belum lagi remunerasi yang gak sesuai untuk pelatihan di luar kota.
Bismillah....saya putuskan. Dari awal memang saya sudah gak yakin. Dan dari pengalaman saya kalo mengikuti sesuait yang saya sendiri sudah ragu dari awal biasanya di belakangnya gak akan bagus. Entah mengapa dari awal memang saya sudah ingin fokus ke bank Muamalat. Saya pun ikut ODP bank ini karena udah 3 bulan gak dapat kabar dari Bank Muamalat. Ternyata saya baru saja di hubungi sama bank Muamalat untuk ikut tes mereka.
Saya putuskan untuk tidak mengambil bersama 3 orang teman lain. Memang ini keputusan yang berat dan beresiko sepertinya. Tapi mau diambil pun juga pasti ada resikonya kan. Saya lebih siap kerja keras lagi cari kerja dari pada dikungkung dalam hal yang saya udah  gak yakin saya bisa profesional disana.
Bismillah...saat ini saya sedang sibuk ikut tes ODP lagi di bank Muamalat. Yah...ibaratnya jadi mulai dari  0 lagi. Tapi dari situ saya belajar untuk lebih baik lagi dalam setiap tahapan tes. Saya belajar dari hal-hal yang saya kurang saat tes sebelumnya. Saya tahu memang pasti ada kemungkinan untuk saya gak lulus. Tapi bismillah....saya berdoa. Saya yakin kepada Allah kalo memang sudah jalannya pasti akan dimudahkan. 


Sekarang lagi nunggu hasil interview kemarin. Psikotes di bank Muamalat sendiri emang susah. Susah banget. Dan setiap tahapn berlaku sistem gugur. Saya tahu selesi ODP ini lebih keras dan sulit.
Saya sendiri sudah lumayan cukup banyak membekali diri dengan ilmu perbankan syariah. Saya banyak baca buku perbankan syariah. Duh, di rumah udah banyak banget buku perbankan syariah sekarang. Saya ikut kuliah ekonomi informal (KIEI) dari FSI FE UI selama 3 bulan. Memang saya itu orang yang selalu ingin yang terbaik dalam segala hal. Tapi kalo misalnya (naudzubillah) saya kena sistem gugur, saya seharusnya jangan menyesal karena setidaknya belajar ilmu muamalah itu kan fardhu ain, bukan buat tes aja. Dan saya senang belajar ilmu muamalah karena kalau saya jadi ibu rumah tangga nanti pasti harus bisa investasi, atur uang, dll nya kan. Dan katanya Umar ra. Kita emang harus bisa ilmu muamalah sebelum berdagang/berusaha.
Sekarang saya sedang berdoa banyak puasa dan ibadah lainnya agar Allah memudahkan jalan saya ke depan. Segala kesulitan dalam perjalanan mencari kerja ini saya yakini sebagai cara Allah untuk bisa membuat saya lebih dekat kepada Nya. Skenario tuhan itu unik. Dan pasti Allah akan selau memberikan yang terbaik bagi hamba Nya. Yang bisa manusia lakukan adalah dengan menjaga iman, perilaku, dan banyak berdoa agar mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa. 

photo credit:
machoarts.com
123rf.com
jobsrecruit.blogspot.com

Kamis, 13 September 2012

Jobseekers’ note Part.2 (A “Job-Applying” Addiction)


It had been around 10  pm when I was still preparing the stuffs for attending job fair tomorrow. I even coldn’t remember how many times I have to print, copy, and tidy up my job application. I even had made one hundred copy of my CV!.

I was also feel tired going back to my campuss for making legalisation of my academic transcript and graduation letter (since I haven’t received my certificate yet, It’s still prepared by the university).
After I had finished my thesis about 3 months ago I am now get busy preparing job application and anything related to it. I begin to read the jobs and interview tips articles in internet.  I take TOEFL test, I also buy some books about psychotest tips and some books related to the job industry I will apply into.
This job seeking activity start to dominate my whole activity now. I dedicate most of my time after finishing thesis for applying a job. I still remember when I just had presented my thesis in front of my lecture and I was decided by them to pass (I cried at that time-), I straigthly started to search for a job. What a rushed person I am!.


And still now, my job seeking activity doesn’t stopped yet. In one side, I thing I make this too excessive . I camp it up. I become addicted in this job seeking activity. Even I feel tired for making my CV, printing it, and preparing other supporting stuffs, deep inside I like doing these. I don’t know whether it is because I am a person who forcely try every opportunities and too ambitious to reach something
But in the other side, I know that I shouldn’t make it too complicated. I should be focus, efficent also effective. I admit that I am a compulsive person that always want to try every job opportunities that come. I always read and collect every job advertising and I always apply to those. I am miscount of  many job application I have sent. I even had been called for an interview in several companies.

First, in Mandiri Bank. Usually, in a job interview I am asked about my self, my previous experiences in doing internship or in school activitiy and what will I do in the companies the interviewer asked. I also asked whether I will be placed outside my hometown. I answered to the Mandiri man that interviewed me that my preferences to be placed outside is only 50%. And after that i didn’t pass.

Second, in Metro TV, I failed at the psychotest. Maybe not my luck. Third, in UNGC (United Nation Glocal Compact). Yeah, I really prody to be interviewed there. But, at that time I didn’t know much about the institution. So I didn’t feel like I will take the offer. And now I am  feel dissapointed for missing the opportunity because It is a well known institution and even it is under UN authority. Hiks...

I even had been interviewed in an unrecognized company. I don’t want to state the name but you have to warn about them. It is a recruitment firm and they are usually employ person based on a contract and you’ll be distributed to other company that become their client with contract based. Uggh....I hope I don’t get any called from an recruitment firm like that.

But, when I am called for every interview I don’t feel like I am ready for the job. It is because I still want to prepare and apply for another job opportunities. Deep inside in my mind, I think if I take the job I won’t be able to arrange for another job applications. Whereas, the truth is I have to focus and It is not important to apply for every job opportunites and attend every job fair events.

I take a lesson from this that even therea are many job advertisement around there and many job fair event conducted in our city,

It is not necessary to apply every of those job opportunities  and attending every job fair events. It is more important to ask yourself about what the job criteria you want and where will you probably work. Before starting applying a job, we must have decided our job preferences, maybe if you are a graduate from social sciences what the job criteria you want to do in the future. 

Whether you want to work in the position that in line with your background or you more prefer to try other fields. It is depend in yourself and what you want to be in the future. So, read your diary again, ask yourself about what is your dream career and what will you be in the future.


One thing that is more important is deciding your job location preference. Are you oke if you are asked to be traveled outside your city or even be placed outside your city?. For female employee being placed outside her city maybe become hard and difficult but for male employee it is not really matter and can become a challenging tasks for them. If you don’t decide it well or you haven’t talk to your parents I can make sure that you will make wrong decision when you got interview. If you just say that you’ll be able to be placed outside your hometown when you are asked with an interviewer in order to attract them you will be dissapointed after that.

I learn that it is important also to make your priority. You may apply your job application massively and repeteadly but you must choose your very selection companies or institutions. Maybe you have apply in every places but you know that working in Company A, R, or F will be more beneficial because there are have well known, they paid well, and your qualification really match to their requirements. So, don’t just select one selection, make it more but don’t too much.

I know and I have to confess that I also apply to not so well known companies and I very dissapointed after that knowing that they are an unrecognized institution and the salary is not beneficial. Once if you have called to an interview in an institition that well enough you may consider its offer to be continued as their staff. Yeah, even you know you are still waiting for another job interview from your previous selection companies you may consider that come first. It is good if they are not employ a person too fast and give time for announcing the interview result.

In brief, even there are many job opportunities around there we have to decide and make our preference first before starting sending application sporadicaly. As a young person, it is natural that we always want to try every opportunity but we have to know first about the institution. We must examine the company and think whether its job offer  will be fit for us. 
 

I know that I am addicted this “job-applying” activity  but I know I shouldn’t have to send all my application. I have to do it wise, focus, and know when to stop. If I have got an interview. I should consider about it and don’t just feel unready for the opportunity. This time I should be ready to start work than being busy apply a job. This “job-applying” activity is costly too, doesn’t it?, I mean for buying an envelope and paying the delivery fee.

So, for every job seeker around there. Don’t be too compulsive trying every job opportunities. Just be focus and keep ready for a job. You will get a job faster than a person who sporadicaly sending application that will be costly. 

For a jobseeker that have applying and sending application several times but still don’t get an interview called, don’t be dissapointed. The good thing will come in a best time. You still have to try and focus on our job selection. Remember, we all have to be alert to a job interview from recruitment firm that employ with a contract based because sometimes they are all unrecognized and always ask money as a submission cost.






photoscredit:
addiction-treatment.com
scclnews.blogspot.com
personalbrandings.blogspot.com
digitaltrends.com

Senin, 10 September 2012

Jobseekers' note

It's about 3 months ago I got used to deal with my undergraudate thesis "never ending" revision, not later after that now I suddenly have to deal with the job seeker preparation.

Yup, that's sound tiring but that's what I really feel now. I realize that being a students isn't easy because not only we have to finish our study and write our undergraduate thesis, but we also have to prepare to go out of the comfort zone and entering the career world.

Unfortunately, most of the lessons in campuss didn't teach its students how to prepare for seeking job. What I remember is just about reading theory and learn something that is far from reality. Truthfully, students need to learn the tips how to prepare well for entering the career world.

job-seeker.jpg
Well now, after times of sending job applications to many companies I examine and gain more knowledge about the importance of good prepartion for entering career world. To prepare ourselves for applying a job we need some requirements and the most important requirements is we need a comprehensive and good CV. Nevertheless, we also need some other requirements like our academic transcript, certificate (or if it's not published yet you can replace it temporary with letter of graduation), and other certificate of achievements, courses, and everything that indicate your achievements. 

To be more comfortable, I wil explain those requirements one by one here:

1. CV
You may have heard this world several times but still many jobseeker cannot prepare the good CV. CV comes from latin word "Curriculum" and "Vitae" that means your life comprehensive history.

In USA, even there are a CV maker consultant that gives advice to the making of job seekers CV. Employeer in USA really put attention to the aplicants CV because the more comprehensive and professional the CV the more better the person is.

CV in some cases is a little bit same like Resume but Resume is more detail and CV sometimes comes in the resume as a segment that list our general informations. But not many companies requires CV and resume together. You have to make sure that  you make CV or Resume comprehensively.

I read in one article that for fresh graduate we don't have to make our CV more than 2 pages long. I myself, have make that mistakes. As I want to make my CV detailed and professional, I make it 5 pages long, and I got no interview call. But when I summed my CV into 2 pages, I got more interview call.

There are many articles in the internet and books about what to be list in our CV and the essential of that informations is we need this information to be listed in our CV:

a. Our general information, like: our name, birthdate, status (single/married), etc.
b. Our formal education history, you must list from elementary school until university and stated also the year of entrance and graduation.
c. Our informal education history, like our courses we attend, seminar, workshop, coaching, etc.
d. Our skill, like computer skill or language skill
e. Our achievement,
f. other miscellanous informations but still list that is relevant.

Job-Seeker-01.jpg
According to my knowlege, the strength of our  CV comes from our skill and achivement. If we are a fresh graduate but we have many achievements and experiences in school organisations and comitees, it will add a good score for us.

So, if you are still in the college it is good to enhance your qualifications like attending courses, not just english course. Increasing skill especially computer skill, like Adobe photoshop, etc. And make more achievement, join competition in your campuss.

I evaluate my self that in the future I have to enhance my CV or my qualification by:
- Attending other language courses (Oh, I really want to learn Japanese and Arabics :D)
- Take IELTS test because it will be more improtant in the future than TOEFL
- Attending accountancy courses even I am not entering economics faculty I need this course and I know a place that offer an accountancy course conducted by IKAPI and the place is near Depok.
- Attending computer courses, I need to master SPSS because many companies need people who can do statistic. As a social students I have to be strong in both quantitative and qualitative research.
- Take workshop, seminar, and achivements. Wish me luck

2. Other supporting requirements
Like your academic transcript and certificate, make sure you prepare it before you apply a job


So, that is about the job requirements. I want to tell also about the channel to search a job, type of the employeer, and about interview.

But this post is quite longer so I will continue it to other post. Keep reading. Good luck for you!

photos credit:
tweakyourbiz.com
hirexa.com


Jumat, 10 Agustus 2012

Mempersiapkan Diri untuk Tes TOEFL Dalam Waktu 10 Hari

Sekarang memang sudah tidak diragukan lagi kalau tes TOEFL menjadi alat assesment andalan untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris kita. Di hampir semua institusi di Indonesia baik sekolah maupun kantor rata-rata mensyaratkan nilai TOEFL.

Baru-baru ini saya mengambil tes TOEFL tepatnya tanggal 4 Agustus lalu di LBI FIB UI, Alhamdulillah walau berbekal persiapan yang minim kurang dari 10 hari saya bisa mendapat skor 577.

Pada dasarnya, rata-rata orang Indonesia sudah tidak asing lagi dengan format tes TOEFL tapi masih banyak yang kesulitan untuk mendapatkan nilai di atas 500. Sebenarnya, hal ini kembali lagi ke faktor persiapan masing-masing individu. Meski kemampuan bahasa Inggrisnya semasa di sekolah bagus namun kalau tidak dipersiapkan dengan baik untuk berlatih soal TOEFL saya yakin hasilnya jelek.

Menurut Cliff, nilai TOEFL terendah adalah 300 yang berarti tidak ada satu jawaban pun yang benar. Berarti kalau kita ikut tes TOEFL dan matanya ditutup, kita bisa dapet skor 300 bukan 0, tapi tentu saja nilai tersebut tidak akan lolos untuk masuk universitas atau insitusi kerja. Nilai tertinggi TOEFL adalah 700, berarti sempurna, tidak ada jawaban yang salah.

toefl-test.jpg

Berdasarkan pengalaman saya, ada teman yang waktu SMA dulu pernah dapat skor TOEFL 700. Ia memang sudah lama tinggal di luar negeri. Kalau menurut saya intensitas berkomunikasi kita dengan native speaker bisa menentukan kemampuan bahasa Inggris kita. Namun, ada juga teman saya yang tidak pernah ke luar negeri tapi skor TOEFL nya 600. Kok bisa?. Ternyata meski dulu tes tersebut diadakan dadakan, teman saya itu memang sudah suka baca novel dalam bahasa Inggris. Jadi, kemampuan bahasa Inggris kita harus diasah terus menerus tidak bisa dadakan kayak mau tes matematika di sekolah dulu. Hehehehehe...

Nah, pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mendapatkan skol TOEFL di atas 500 atau 550 dengan persiapan yang minim. Saya sendiri kemarin hanya punya waktu persiapan sekitar 10 hari, padahal saya sudah lupa grammar dan kemampuan listening saya masih payah. Alhamdulillah saya bisa dapat skor 577. Berikut ini adalah tips dan trik yang saya lakukan untuk mendapatkan skor TOEFL dengan persiapan yang minim:

1. Belajar secara efektif dan tetap tenang. Meski tes ini penting dan menentukan masa depan (misalnya bagi yang akan tes CPNS besok) tetap tenang agar kita bisa belajar optimal.

2. Belajar secara efisien dari buku-buku preparation TOEFL yang ringkas namun komprehensif. Jangan pilih buku yang terlalu tebal karena khawatir tidak akan bisa dibaca.

3. Pilihlah buku yang ditulis penulis asing dan tahun penerbitannya baru.

4. Pilih buku yang ada CD listening dan soal paket TOEFL minimal 6 paket soal.

5. Pilih juga buku yang ada kunci jawaban dan pembahasannya.

Saya sendiri mengguakan buku Cliff dan menurut saya buku tersebut bagus sekali. Very recomended for you, karena selain ada pembahasann structure and written yang ringkas tapi jelas juga ada cara mengkonvert skor TOEFL jadi kita bisa mengukur skor kita sendiri.


2408738.jpg


6. Pertama-tama kerjakan soal TOEFL yang ada di dalam buku tersebut berdasarkan waktu yang disediakan. Kemudian hitung nilai benar.

7. Fokuslah untuk belajar ke bagian yang paling banyak salahnya. Misalnya, kamu tadi hanya benar 20 soal untuk 50 soal listening maka sering-seringlah berlatih mendengarkan CD listeningnya.

8. Saat mengerjakan TOEFL untuk listening, jangan membaca buku soal atau menghitamkan jawaban terlalu lama saat percakapan berlangsung. Pokoknya dengarkan saja. Kesalahan sering terjadi karena kita mengerjakan hal lain saat percakapan dengan maksud untuk mendapatkan clue tapi sebenanarnya yang terbaik adalah mendengarkan percakapan secara seksama sampai mengerti.

9. Saat mengerajkan Structure and Written, jangan menghabiskan waktu terlalu lama karena cuma ada 25 menit saja

10. Saat mengerjakan reading, jangan panik, baca dulu pertanyaannya untuk mendapatkan gambaran sekilas (glance) baru baca teksnya. Jangan ribet duluan sama bacaan yang panjang.

Intinya, tidak mustahil untuk mendapatkan nilai TOEFL yang bagus hanya dengan persiapan yang minim. Yang penting adalah tetap PD, tenang, dan belajar secara efisien dan efektif, juga tidak lupa berdoa. Good luck all!

Selasa, 07 Februari 2012

Lecutan Semangat: The Beggining of Big Task

Big task means big achievement,
When we done our great duty then we'll got big achievement

Bisa dibilang saat ini adalah awal dari tugas besar saya sebagai seorang mahasiswa,
satu hal yang sering dibilang benci namun disisi lain juga sangat saya sukai.

Ya.., setelah berbulan-bulan, bersemester-semester melalui perkuliahan sebagai mahasiswa ilmu kesejahteraan sosial saat ini lah saya akan menempuh SKRIPSI.

Eng..ing..eng (Let's put some sound effect to make it dramatic :p)

Saat-saat mengerjakan skripsi sebenarnya adalah saat-saat dimana seorang mahasiswa itu mencapai puncak dari pendakian akademisnya. Saat ini adalah pembuktian kemampuan ilmiah mahasiswa itu sendiri.

Namun, di samping itu sebenarnya ada banyak ilmu yang kita dapatkan dari proses pengerjaan skripsi. Tanpa sadar kita juga belajar cara mengelola waktu, menyeimbangkan ambisi dan kemampuan, berkompromi dengan orang lain, mempersuasi orang lain, mencari data, berkomunikasi, dan yang tidak kalah penting adalah kecerdikan untuk menyeimbangkan komunikasi antara pembimbing.

Sadar gak sadar terkadang sukses tidaknya skripsi memang tergantung dari dosen pembimbing ini. Apalagi buat mahasiswa ilmu sosial. Pengalaman selama kuliah memperlihatkan bahwa faktor pribadi dosen dalam memberi penilaian di ujian atau dalam menilai proposal skripsi di ilmu sosial sangat dominan ketimbang faktor kebenaran ilmu itu sendiri, karena gak ada kebenaran absolut dalam ilmu sosial. Jadi bagi anda yang berkuliah di jurusan sains berbahagialah karena kemungkinan anda akan cepat lulus dan penghambat skripsi anda hanya kemalasan anda saja atau kemalasan pembimbing bukan dari penilaian subjektifnya. Hmm...

Dalam skripsi juga kita harus cerdas-cerdas membagi tenaga, sudah susah-susah ngetik berhalaman-halaman teori tapi kalau pembimbing gak suka (karena rata-rata pasti akan jengah untuk membaca berlembar-lembar proposal skripsimu tersebut) lebih baik gak usah. Make it effective. Akan lebih baik kalau memasukan teori secukupnya. Tenang-tenang, kau tak akan terlihat bego kok meski teori yang kau masukkan hanya sedikit.

But, most of all, hal yang teramat sangat penting dari semuanya adalah doa. Ya, benar sangat benar. Tanpa doa hanya kesulitan yang akan kita dapat. Intinya adalah tawakal dan yakin Allah swt akan memberi kemudahan.
Siapa yang menentukan hati pembimbing?, itu pasti Allah swt kan. Jadi, keputusan yang diberikan pembimbing sebenarnya adalah keputusan dari Allah swt atas doa-doa dan ibadah kita selama ini.
Siapa yang menentukan hati informan atau komunitas sasaran semaunya?, pasti Allah swt dong.

So, i want to conclude that our success in doing undergraduate thesis depends on our pray and ibada, beside we must be dicipline and balancing the communication with the stakeholder (or whoever that relate to your undergraduate thesis).

Kalau lagi ngomongi skripsi begini. Barusan saja saya ketemu teman lama. Setelah bersalaman dan bertegur sapa baru saya tahu kalau dia sudah selesai skripsi. Wiss..hebat, begitupula dengan teman saya yang sudah punya anak (wow, bahkan saya saja baru mau mulai di semester 8 ini).

Memang, kemampuan orang berbeda-beda. Itu pula tergantung dari kondisi fakultas tempat ia berkuliah. FISIP ini salah satu fakultas yang agak ribet makanya jarang ada yang bisa lulus 3,5 tahun. Salah satu kesulitannya adalah adanya mata kuliah praktikum, sejenis magang, terutama di jurusan saya. Jelas sekali kita sulit berkonsentrasi untuk skripsi sementara kita harus merancang assesment, implementasi, dan evaluasi program untuk komunitas sasaran. Hmm...sejensi pemberdayaan masyarakat gitu deh. Surely, its really 'ribet'.
But, some of my friend sucessfully finish their undergraduat thesis while doing practicum. Kalau mereka emang manusia super kali ya, i don't have to mention more.

Bisa jadi pertemuan tadi pagi untuk menjadi pelecutan semangat bagi saya agar mempercepat pengerjaan skripsi. Banyak contoh dari teman-teman yang sudah sukses memang harus menjadi cambuk diri untuk lebih disiplin dan semangat. But don't make yourself feel down. Segala sesuatu pasti akan indah pada waktunya :). Bismillah.

Kamis, 02 Februari 2012

Something I want To Be

Hari yang cerah di pertengahan semester ganjil,
seperti hari-hari biasa di akhir semester 7 dan awal semester 8 (yang sekarang sering saya sebut, semester skripsi), saya datang ke kampus untuk ber-"alay-alay" ria
Yah, tidak bisa dibilang ber-"alay-alay" juga karena biasanya saya ke kampus untuk urusan kecil saja. Kebetulan registrasi akademik online sedang agak bermasalah juga maka dengan segala kemawasan diri saya mewajibkan diri ke kampus untuk berkonsultasi dengan staf SIAK-NG di fakultas atau kalau perlu saya akan ke rektorat juga, khawatir terjadi apa-apa di awal semester nanti.

Sengaja saya datang pagi hari ini, biasanya saya berleha-leha dulu di rumah sampai hari agak siang dan baru sampai kampus ba'da dzuhur.
Karena teman saya mengajak saya untuk berangkat bareng, maka saya langsung tancap gas dari rumah jam 08.30 pagi tanpa sarapan karena memilih utk makan di luar saja (hehhee...., ketawan yg lagi ngidam mie ayam).

Mie-Ayam-Bangka-Andi-01.jpg


Singkat cerita, kami sudah duduk bersama di kedai mie ayam dekat kampus. Dia berkeluh tentang masalah registrasi akademik di kampus kami yang ajaib. Sedikit saya bersinggung cerita soal hal-hal seputar skripsi dan kelulusan.

Ya, kami berdua adalah salah satu diantara mahasiswa yang gagal lulus 3,5 tahun. Boleh dibilang ini adalah obsesi yang cukup tinggi. Meski demikian saya telah melihat sendiri teman-teman yan telah terlebih dahulu lulus, sekarang pun masih bingung akan kemana.

Singkat cerita, kami sudah bertukar topik pembicaraan tentang pekerjaan yang akan kami geluti nanti. Yang saya kenal, teman saya yang satu ini sudah punya masa depan jelas yang akan bidang yang akan ia geluti nantinya. Terlihat jelas dari keahlian yang sudah ia tonjolkan di luar kuliah dan pekerjaan sambilannya. Prestasi-prestasinya di bidang media online saja sudah banyak dan sudah sering memenangkan lomba blog.

Saya sendiri. Yah, beginilah. Sudah lama bercita-cita menjadi seorang dosen tapi kalau dipikir-pikir sulitnya seleksi masuk dosen belum lagi tuntutan yang harus dipenuhi seperti persaingan dengan dosen lain dan ancaman rasionalisasi. Ahhh...., hal ini yang membuat saya tidak mantap menjawab ingin jadi dosen. Kadang-kadang saya sendiri suka mengutarakan hal yang berbeda-beda bila ditanya cita-cita sama orang lain. Pengin jadi PNS lah, pengin kerja di CSR, lah. Intinya, semudah itu pula kita mengganti cita-cita.

Kite_by_AbdulmajeedP.jpg


Saya sendiri jadi teringat dulu waktu semester awal kuliah dengan teman saya itu. Kami berbeda jurusan namun masih kenal karena sering satu kelas. Masih ingat, awalnya saya yang mengajak ia untuk membuat blog. Kami sama-sama senang seperti anak SD yang baru kenal buku cerita baru, kartun baru, atau koleksi bonek baru. Masih polos dengan mainan baru kami itu. Kami sering tukar bertukar alamat blog, saling suggest halaman blog di facebook, saling ikut lomba blog, dll. Tapi tidak tahu kenapa?, justru teman saya ini yang lebih dulu maju blogn ya

Sudah banyak kali saya ikut lomba blog tapi lebih sering ia yang menang. Saya dulu cukup berambisi tinggi dengan blog saya dan bahkan bercita-cita menjadikannya sebagai blog bahan tulisan dan pemikiran. Tapi parahnya sekarang saya malah jarang posting alias hiatius. Ahh...semudah itu pulakah ambisi menghilang.

Hari ini saya belajar sesuatu. Sesuatu yang di luar ambisi. Dalam waktu 5 tahun menjalani hidup, menempu tahap remaja awal, akhir dan kini memasuki tahap kedewasaan. Saya belajar bahwa ambisi saja tidak cukup dalam hidup ini. Perlu ada ketabahan, kerendahhatian, dan kesabaran. Mungkin hal-hal itulah yang hilang dari hidup saya selama ini.

Terkadang saya melihat diri ini ibarat pacul petani yang dipakai kerja tanpa henti. Memacul tanah keras, bekerja tanpa lelah, dan penuh ambisi. Tapi hal tersebut malah akan membuatnya cepat lelah dan tentu saja petani tersebut tak akan sesukses petani lain.

Dia dengan cukup mantap menyatakan cita-citanya. Seperti remaja yang telah melewati tahap identity vs identity confusion kalau yang Erik Erickson bilang. Mungkin Erickson kurang melengkapi teorinya atau saya yang kurang membaca buku. Kita tidak sekedar butuh ambisi dan lingkungan yang mendukung dalam mencapai jati diri tapi kita juga harus kuat, tahan banting, dan menerima resiko.

Baiklah, jika kita sekarang sudah memiliki gambaran masa depan yang cukup jelas. Kita bahkan telah merencanakan hidup kita. Tapi kita takut gagal. Kita takut tidak akan menjadi orang yang sempurna. Maka seketika itu jugalah kita akan terombang-ambing di masa depan. Kita akan ragu mengatakan cita-cita kita yang sebenarnya. Seketika itu juga kita kembali ke tahap identity confusion seperti orang yang tidak punya jati diri.

Di dunia ini tidak ada jalan yang mudah memang. If you dream it you have to be brave to take the risks.

Maka, sekarang saya harus yakin, saya ingin menjadi dosen. Dia yang menginspirasi saya untuk yakin. Ya, jika orang lain saja yakin mengatakan cita-citanya, saya juga harus yakin.

13269678972113590797.jpg






Dengan mengucap nama Allah dan dengan ridha Allah tentunya, mulai saat ini saya harus yakni saya ingin menjadi dosen. Apapun resikonya. Saya tidak boleh ragu-ragu. Mungkin saya akan mengalami kesulitan. Mungkin saya akan tidak dianggap pada awalnya. Mungkin saya akan menjadi dosen magabut. Tapi tidak untuk selamanya, hanya untuk masa-masa awal saja. Mungkin saya tidak bisa dapat scholarship di luar negeri. Atau mungkin jika saya dapat maka saya akan mendapat kesulitan di negeri orang sana. Tapi sekali lagi saya tidak boleh ragu dan terombang-ambing. Cita-cita hanya satu. Kalau dari sekarang tidak fokus maka akan lebih sulit ke depannya dan barangkali (naudzubillah) kita malah tidak akan bisa menjadi apa-apa.

lecture2.jpg



Mau jadi PNS, sekarang pun sulit. Tes PNS sudah ditutup. Jumlah permintaan PNS sudah dikurangi. Dan kalau kita ikutpun mungkin kita tidak akan dapat. Tapi, apa kita harus menyerah. Tentu tidak, kita tetap harus fokus pada cita-cita. Itulah yang membuat kita lebih rajin berdoa bukan.

#note for self in 3rd February '12:

I have on dream, one big dream. I want to become a lecture so i can develop my knowledge, do research, educate people, moreover i can give big contribution to the welfare of people. So, i have to keep this always in my hand, my souls, and my mind. Don't become afraid about the risk. Something will be difficult at once but not forever. Keep faith and pray only to Allah swt.